Sei Rampah – Rupiah Anjlok Level Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami penurunan signifikan, mencapai level terendah dalam empat bulan terakhir.
Pada perdagangan hari ini, Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.585 per Dolar AS, meningkat dari sebelumnya yang berada di sekitar Rp16.400-an.
Penurunan nilai Rupiah ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi mengenai stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga : Kunjungi RSUD Budhi Asih, Pramono Bakal Renovasi IGD hingga Cath Lab
Anjloknya Rupiah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global maupun domestik yang sedang berlangsung.
Salah satu faktor utama adalah penguatan Dolar AS di pasar dunia, yang membuat mata uang negara-negara berkembang termasuk Indonesia tertekan.
Kebijakan moneter Amerika Serikat yang ketat dengan kenaikan suku bunga terus berlanjut untuk menekan inflasi di negara tersebut.
Kenaikan suku bunga di AS membuat investasi dalam aset berdenominasi Dolar menjadi lebih menarik, sehingga permintaan Dolar meningkat.
Sebaliknya, mata uang negara berkembang seperti Rupiah mengalami tekanan karena arus modal keluar yang terjadi.
Selain faktor eksternal, kondisi domestik juga turut memengaruhi depresiasi Rupiah.
Ketidakpastian politik dan ekonomi dalam negeri menjadi salah satu pemicu turunnya kepercayaan investor terhadap Rupiah.
Inflasi yang masih cukup tinggi di Indonesia juga menimbulkan kekhawatiran akan daya beli masyarakat.
Bank Indonesia sudah melakukan intervensi pasar dengan menjual cadangan devisa untuk menstabilkan Rupiah, namun tekanan masih cukup berat.
Para analis memprediksi nilai Rupiah akan terus berfluktuasi dalam waktu dekat jika kondisi global dan domestik belum membaik.
Kondisi ini memberikan dampak langsung pada harga barang impor yang semakin mahal.
Kenaikan harga barang impor ini berpotensi mendorong inflasi di dalam negeri semakin tinggi.
Sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor juga merasakan dampak negatif dari melemahnya Rupiah.
Beberapa perusahaan sudah mulai mengumumkan kenaikan harga produk untuk menyesuaikan biaya produksi yang meningkat.
Hal ini tentu berdampak pada konsumen yang harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan sehari-hari.






![01uqAkSFsjkwdn4tiVkKfq[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/10/01uqAkSFsjkwdn4tiVkKfq1-148x111.jpeg)
![c779a0ebea9b842b603d2538da33943e[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/10/c779a0ebea9b842b603d2538da33943e1-148x111.jpeg)