, ,

Pengungsi banjir di Serdang Bedagai Sumut butuh selimut dan obat

oleh -304 Dilihat
oleh

Seirampah – Pengungsi banjir besar yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada awal bulan November 2025, meninggalkan dampak yang cukup parah bagi ribuan warga setempat. Hingga kini, ribuan pengungsi masih bertahan di posko-posko pengungsian dengan kondisi serba terbatas. Selain kebutuhan pokok seperti makanan dan air bersih, para pengungsi di daerah yang terdampak banjir juga mengeluhkan kekurangan selimut dan obat-obatan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit.

Banjir yang terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi menyebabkan sejumlah sungai di wilayah ini meluap, merendam perumahan, lahan pertanian, dan fasilitas umum. Banjir ini menyebabkan ratusan rumah warga terendam air hingga ketinggian lebih dari 2 meter. Akibatnya, ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara sebagian besar rumah mereka mengalami kerusakan yang parah.

Pengungsi banjir Kebutuhan Mendesak di Posko Pengungsian

Pengungsi banjir
Pengungsi banjir

Baca Juga :  Kunjungan Silaturahmi PD Al Washliyah Sergai dengan PA Sei Rampah Siap Berkolaborasi

Di posko pengungsian yang terletak di beberapa titik, seperti di Kecamatan Tebing Tinggi, Sei Rampah, dan Perbaungan, ribuan pengungsi bertahan dengan perlengkapan seadanya. Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh para pengungsi adalah kekurangan selimut dan perlengkapan hangat lainnya, mengingat cuaca dingin yang sering turun, terutama pada malam hari.

Siti Aisyah, salah satu pengungsi yang tinggal di posko di Kecamatan Sei Rampah, mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya sangat membutuhkan selimut untuk melindungi diri dari hawa dingin yang menusuk. “Kami tidur di lantai dengan alas seadanya. Kadang-kadang hujan datang, dan kami tidak punya selimut. Anak-anak dan orang tua sangat membutuhkan itu untuk menghangatkan tubuh,” ujar Siti dengan suara lemah.

Selain itu, banyak pengungsi yang juga mengeluhkan keterbatasan obat-obatan di posko. Beberapa pengungsi, terutama yang memiliki riwayat penyakit seperti asma, diare, dan demam, kesulitan mendapatkan perawatan medis yang memadai. Ramlan, seorang pengungsi yang telah berusia lanjut, mengungkapkan bahwa ia sangat kesulitan mendapatkan obat rutin yang biasa ia konsumsi setiap hari. “Saya punya penyakit darah tinggi, dan obat saya habis. Saya butuh obat, tapi tidak tahu harus kemana,” katanya dengan suara penuh kecemasan.

Penyuluhan Kesehatan dan Penanganan Penyakit

Seiring dengan meningkatnya jumlah pengungsi, pihak Dinas Kesehatan Serdang Bedagai bersama dengan relawan medis dan organisasi kemanusiaan terus berupaya memberikan layanan kesehatan. Sejumlah tim medis telah dikerahkan untuk memberikan pengobatan kepada para pengungsi yang mengalami gangguan kesehatan. Namun, kekurangan pasokan obat-obatan dan terbatasnya tenaga medis menjadi kendala utama dalam penanganan masalah kesehatan.

Dr. Agus Haryanto, Kepala Dinas Kesehatan Serdang Bedagai, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan sejumlah tim medis ke lokasi pengungsian untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. “Kami juga mengadakan pos pelayanan kesehatan di beberapa titik pengungsian, namun memang kebutuhan akan obat-obatan dan peralatan medis masih sangat tinggi, terutama untuk mengatasi penyakit yang sering muncul di saat bencana seperti ini,” kata Dr. Agus.

Penyakit yang sering dikeluhkan oleh para pengungsi antara lain gatal-gatal, demam, penyakit kulit, hingga penyakit pencernaan akibat kurangnya akses air bersih. Banyak pengungsi yang tinggal di tempat pengungsian dengan fasilitas sanitasi yang sangat terbatas, dan ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

Dampak Banjir yang Berkepanjangan

Banjir di Serdang Bedagai yang berlangsung selama beberapa minggu terakhir ini telah menimbulkan banyak kerugian, baik materiil maupun non-materiil. Selain rumah yang terendam, lahan pertanian juga ikut terendam, sehingga menyebabkan kerugian besar bagi para petani. Padi, sayuran, dan tanaman hortikultura yang biasa menjadi sumber penghasilan utama petani setempat kini rusak atau hilang begitu saja.

Bupati Serdang Bedagai, H. Darma Wijaya, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah sedang melakukan berbagai langkah untuk pemulihan pasca bencana, baik dalam hal perbaikan rumah maupun pemulihan ekonomi bagi para petani yang terdampak. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masalah kesehatan dan kebutuhan dasar pengungsi harus segera diprioritaskan.

“Kami sudah menyalurkan bantuan seperti makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya, namun memang ada beberapa hal yang perlu ditangani dengan lebih serius, seperti masalah kesehatan dan kebutuhan selimut untuk pengungsi yang membutuhkan perlindungan di malam hari,” ujar Darma Wijaya.

Tanggap Darurat: Bantuan dari Masyarakat dan Lembaga Sosial

Melihat kondisi pengungsi yang semakin memprihatinkan, berbagai organisasi sosial dan lembaga kemanusiaan segera bergerak untuk memberikan bantuan. Lembaga-lembaga sosial seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dan BASARNAS turut mengirimkan tim tanggap darurat dan distribusi bantuan ke posko-posko pengungsian.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.