Seirampah – Pelaku Ekraf Riau yang dikenal dengan kekayaan alam dan budaya yang melimpah, kini juga tengah menggeliat dalam mengembangkan sektor Ekonomi Kreatif (Ekraf). Ekonomi kreatif merupakan sektor yang mengandalkan ide, kreativitas, dan keterampilan manusia untuk menciptakan produk dan layanan yang bernilai tambah. Di Indonesia, sektor ini telah menunjukkan potensi yang sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.
Di Riau, sektor Ekraf mulai menunjukkan tanda-tanda positif, terutama di bidang seni rupa, musik, film, fotografi, serta desain grafis dan kuliner lokal. Banyak pelaku Ekraf yang memiliki kemampuan seni yang tinggi, tetapi mereka juga dihadapkan pada realitas pasar yang menuntut untuk menjadikan karya mereka sebagai produk ekonomi yang bisa dijual dan menguntungkan.
Namun, para pelaku Ekraf di Riau kini berada dalam dilema besar: apakah mereka akan tetap berfokus pada ekspresi seni sebagai bagian dari identitas budaya dan kreativitas mereka, ataukah mereka akan memilih untuk lebih fokus pada pengembangan ekonomi dengan menjadikan karya mereka sebagai produk yang dapat dipasarkan lebih luas?
Pelaku Ekraf Riau Dilema Antara Seni dan Ekonomi

Baca Juga : Kunjungi Pengungsi di Bireuen Prabowo Rasakan Masakan di Dapur Umum
Perdebatan antara seni sebagai ekspresi diri dengan ekonomi sebagai peluang finansial memang tidak hanya terjadi di Riau, tetapi juga di banyak daerah lainnya di Indonesia. Seiring berkembangnya zaman, banyak pelaku Ekraf yang merasa terjepit di antara keinginan untuk menghasilkan karya seni yang murni dengan tujuan untuk memperkaya budaya, dengan tuntutan pasar yang lebih mengedepankan aspek komersialisasi.
Doni Pratama, seorang seniman dan pelaku Ekraf di Pekanbaru, mengungkapkan bahwa dirinya merasa kesulitan untuk menyeimbangkan antara keduanya. “Sebagai seniman, saya selalu ingin karya saya bisa mengekspresikan jiwa dan cerita saya. Tetapi di sisi lain, saya juga harus memikirkan bagaimana karya ini bisa diterima pasar dan menghasilkan pendapatan. Ini adalah tantangan besar, terutama bagi seniman di daerah seperti Riau,” ungkap Doni.
Bagi Doni, menjadi seorang seniman berarti memberi ruang untuk ekspresi dan kreativitas. Namun, ia mengakui bahwa tanpa adanya perhatian pada aspek ekonomi, karya seni tersebut sulit untuk bertahan lama dan berkembang.
Namun, tidak semua pelaku Ekraf memiliki pandangan yang sama. Beberapa di antaranya lebih memilih untuk tetap fokus pada nilai estetika dan identitas budaya. Mereka percaya bahwa seni harus tetap menjadi bentuk ekspresi yang bebas, tanpa terikat oleh tuntutan pasar yang sering kali mengkomersialkan karya tersebut.
Siti Maulida, seorang desainer grafis yang berbasis di Pekanbaru, menyatakan, “Saya lebih memilih untuk tetap menjaga idealisme dalam karya saya.
Bagi Siti, meskipun aspek ekonomi penting, namun ia percaya bahwa seni harus tetap memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar produk jualan.
Ekraf Riau: Potensi yang Terbuka Lebar
Riau, dengan segala kekayaan budaya, keragaman seni, dan keindahan alamnya, memiliki daya tarik yang kuat bagi pasar domestik maupun internasional.
Selain itu, dukungan pemerintah dan berbagai pihak untuk memperkenalkan Riau sebagai destinasi Ekraf semakin kuat.
Melalui Riau Creative Hub, para pelaku Ekraf bisa mendapatkan pelatihan, pendampingan, serta kesempatan untuk memasarkan karya mereka kepada pasar yang lebih luas. Hal ini memberikan peluang untuk meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan, dan mengakses pasar yang lebih besar, baik nasional maupun internasional.
Ekspresi Seni yang Mendunia: Menjembatani Antara Seni dan Ekonomi
“Awalnya saya hanya ingin berbagi makanan khas dari daerah saya dengan orang lain. Tapi dengan sedikit sentuhan kreatif dalam pemasaran, produk saya kini bisa dinikmati oleh banyak orang di luar Riau,” ujarnya.
Rizki menekankan bahwa kunci untuk memadukan seni dan ekonomi terletak pada kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Seni tidak harus berhenti pada bentuk tradisional, tetapi bisa terus berkembang menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan pasar. Dengan begitu, nilai budaya dan estetika tetap terjaga, sementara juga bisa menghasilkan pendapatan yang signifikan.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Namun, meski peluang besar terbuka, para pelaku Ekraf di Riau juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya akses terhadap pembiayaan dan modal usaha.
Hal ini membuat mereka terkadang terpaksa memilih antara mempertahankan idealisme seni atau mengalihkannya menjadi produk yang lebih komersial.
Selain itu, kompetisi pasar yang semakin ketat, serta keterbatasan infrastruktur pemasaran juga menjadi hambatan bagi pelaku Ekraf di Riau.

![IMG-20251214-WA0031[1] Komisi II DPR Minta](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251214-WA00311-148x111.jpg)
![HC1VgBN9Dv[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/HC1VgBN9Dv1-148x111.jpg)
![salah-ekitike_d44c857[1] 5 Pelajaran Laga](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/salah-ekitike_d44c8571-148x111.jpg)
![t_693cf62027f52[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/t_693cf62027f521-148x111.png)
![IMG-20251211-WA0075-2070838001[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251211-WA0075-20708380011-148x111.webp)
![20241119193729-kesambar-petir-ok[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/11/20241119193729-kesambar-petir-ok1-148x111.webp)
![diskon-tarif-tol[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/11/diskon-tarif-tol1-148x111.jpeg)