Seirampah – Mengenal Rahmah El Yunusiyyah mungkin belum sepopuler tokoh perempuan Indonesia lainnya seperti Kartini atau Cut Nyak Dien. Namun kiprahnya dalam dunia pendidikan Islam, terutama bagi kaum perempuan, membuatnya menjadi salah satu figur penting yang berjasa besar dalam sejarah bangsa. Melalui perjuangannya mendirikan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, Rahmah berhasil membuka jalan bagi lahirnya generasi perempuan Muslim yang berilmu, mandiri, dan berakhlak.
Atas dedikasinya itu, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah El Yunusiyyah — sebuah pengakuan atas peran besarnya dalam memajukan pendidikan perempuan dan memperjuangkan kesetaraan di bidang keilmuan berbasis agama.
Mengenal Rahmah El Latar Belakang Kehidupan: Lahir dari Keluarga Ulama
Baca Juga : Promo Full Day Sale Transmart Hadir Lagi, TV LED 50 Inch Cuma Rp 4,6 Jutaan
Rahmah El Yunusiyyah lahir pada 26 Desember 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat, dari keluarga ulama yang terpandang. Ayahnya, Haji Muhammad Yunus, dikenal sebagai seorang alim dan pedagang sukses, sementara ibunya, Rafi’ah, merupakan perempuan Minangkabau yang cerdas dan taat beragama.
Sejak kecil, Rahmah tumbuh dalam lingkungan yang religius dan menjunjung tinggi pendidikan. Ia belajar agama dari keluarga dan guru-guru lokal, namun pada masa itu, pendidikan formal bagi perempuan masih sangat terbatas. Kondisi tersebut membangkitkan tekad Rahmah muda untuk memperjuangkan akses belajar bagi kaum perempuan, agar mereka bisa sejajar dalam ilmu dan wawasan seperti halnya kaum laki-laki.
Awal Perjuangan: Dari Diniyah School ke Diniyah Putri
Pada usia 20 tahun, Rahmah aktif membantu di Madrasah Diniyah School yang didirikan oleh kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy, seorang tokoh pembaharu pendidikan Islam di Minangkabau. Namun setelah sang kakak wafat pada tahun 1924, Rahmah melanjutkan cita-citanya dengan mendirikan sekolah khusus untuk perempuan, yaitu Madrasah Diniyah Putri di Padang Panjang.
Sekolah yang berdiri pada 1 November 1923 ini menjadi lembaga pendidikan Islam pertama di Indonesia — bahkan di Asia Tenggara — yang khusus mendidik perempuan.
Visi Rahmah sederhana namun revolusioner untuk zamannya: “Mendidik perempuan agar cerdas dalam ilmu, teguh dalam iman, dan terampil dalam kehidupan.”
“Perempuan bukan hanya pendamping suami, tetapi juga pendidik bagi generasi bangsa,” demikian salah satu pesan Rahmah yang kerap dikutip para muridnya.
Sistem Pendidikan yang Inovatif dan Modern
Rahmah El Yunusiyyah menerapkan sistem pendidikan yang sangat maju pada masanya. Di Diniyah Putri, siswi tidak hanya diajarkan ilmu agama seperti tafsir, hadis, dan fikih, tetapi juga ilmu umum seperti bahasa, sejarah, kesehatan, keterampilan, dan tata rumah tangga.
Model pendidikan yang diusung Rahmah menggabungkan ajaran Islam, modernitas, dan kemandirian perempuan. Para siswi diajarkan untuk hidup disiplin, mandiri, serta berjiwa kepemimpinan — sesuatu yang sangat jarang ditemukan dalam pendidikan perempuan di era kolonial.
Keberanian Rahmah memperkenalkan sistem asrama bagi perempuan juga menjadi terobosan besar. Di masa itu, masyarakat masih menilai bahwa perempuan tidak sepatutnya tinggal jauh dari keluarga. Namun Rahmah membuktikan bahwa lingkungan asrama justru menjadi tempat pembentukan karakter, kedisiplinan, dan solidaritas antarperempuan.
Mendunia: Jadi Inspirasi bagi Dunia Islam
Prestasi Rahmah El Yunusiyyah tidak hanya diakui di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam internasional. Pada tahun 1955, ia diundang oleh Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, untuk menghadiri konferensi pendidikan Islam.
Kedatangannya disambut hangat, dan para ulama Al-Azhar terkesan dengan konsep pendidikan Diniyah Putri. Mereka bahkan kemudian mendirikan Kulliyatul Lil Banat (Fakultas Putri) — lembaga pendidikan perempuan pertama di Al-Azhar — yang terinspirasi langsung dari sistem yang diterapkan Rahmah di Padang Panjang.
Karena itu, Rahmah El Yunusiyyah dijuluki sebagai “Bunda Pendidikan Islam Perempuan Dunia Islam” oleh kalangan akademisi Mesir. Ia menjadi simbol bahwa perempuan juga bisa menjadi pelopor dalam pendidikan berbasis agama di tingkat internasional.
Perjuangan di Masa Revolusi
Selain berjuang dalam dunia pendidikan, Rahmah juga aktif dalam gerakan sosial dan perjuangan kemerdekaan. Saat masa pendudukan Jepang dan revolusi fisik, ia bersama murid-muridnya ikut membantu perjuangan rakyat dengan mendirikan dapur umum, rumah sakit darurat, dan pos logistik untuk para pejuang.
Gedung Diniyah Putri bahkan sempat dijadikan markas perjuangan. Rahmah tak gentar menghadapi tekanan, bahkan ketika sekolahnya sempat dibakar dan hancur akibat agresi militer Belanda.
Namun semangatnya tidak padam. Setelah situasi aman, ia membangun kembali Diniyah Putri dengan gotong royong bersama masyarakat dan para alumni.
Pengakuan dan Penghargaan
Atas seluruh jasanya dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan perjuangan kemerdekaan, Rahmah El Yunusiyyah dianugerahi berbagai penghargaan, baik nasional maupun internasional.
Puncaknya, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah El Yunusiyyah pada Tahun 2019, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia.
Penghargaan tersebut bukan hanya bentuk penghormatan terhadap perjuangan Rahmah secara pribadi, tetapi juga pengakuan terhadap peran perempuan dalam pembangunan bangsa.
Warisan Abadi Diniyah Putri
Kini, Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang masih berdiri kokoh dan terus berkembang. Sekolah ini telah melahirkan ribuan alumni yang berkiprah di berbagai bidang — dari pendidikan, sosial, hingga politik.
Setiap tahunnya, sekolah ini menjadi magnet bagi pelajar perempuan dari seluruh Indonesia yang ingin menimba ilmu dengan semangat Rahmah El Yunusiyyah: berilmu, beriman, dan beramal.
Di lingkungan sekolahnya, masih tertulis semboyan yang menjadi warisan ajaran Rahmah:
“Jadilah perempuan yang mampu berdiri di atas kaki sendiri, bermanfaat bagi sesama, dan setia pada nilai-nilai Islam.”
Penutup
Rahmah El Yunusiyyah adalah bukti nyata bahwa perempuan Indonesia memiliki daya juang dan visi besar dalam membangun bangsa melalui jalur pendidikan. Di tengah keterbatasan zaman kolonial, ia berani mematahkan stigma dan membuktikan bahwa pendidikan perempuan bukan ancaman, melainkan fondasi bagi peradaban yang maju dan berakhlak.
Kini, lebih dari seabad sejak kelahirannya, nama Rahmah El Yunusiyyah tetap harum dan menjadi inspirasi — bukan hanya bagi perempuan Indonesia, tetapi juga bagi dunia Islam.
Ia bukan sekadar guru, tetapi ibu peradaban.
Dan dari Padang Panjang, cahaya ilmunya terus menyinari generasi bangsa hingga hari ini.

![IMG-20251214-WA0031[1] Komisi II DPR Minta](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251214-WA00311-148x111.jpg)
![HC1VgBN9Dv[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/HC1VgBN9Dv1-148x111.jpg)
![salah-ekitike_d44c857[1] 5 Pelajaran Laga](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/salah-ekitike_d44c8571-148x111.jpg)
![t_693cf62027f52[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/t_693cf62027f521-148x111.png)
![IMG-20251211-WA0075-2070838001[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251211-WA0075-20708380011-148x111.webp)
![IMG-20250210-WA0004[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/11/IMG-20250210-WA00041-148x111.jpg)
![1404953_720[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/11/1404953_7201-148x111.jpg)