Seirampah – Kritik Pemkot Soal Banjir besar yang melanda Kota Medan pada akhir November 2025 mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk dari Fraksi Gerindra (F-Gerindra) DPRD Medan.
Mereka menilai bahwa upaya Pemkot Medan dalam mengatasi masalah banjir, terutama melalui penggunaan anggaran sebesar Rp 42 miliar, dinilai gagal.
Banjir yang terjadi menggenangi berbagai kawasan di Medan, termasuk pusat kota, hingga merendam fasilitas umum, rumah warga, dan rumah dinas pejabat pemerintah, termasuk rumah dinas Gubernur Sumatera Utara.
Namun, meskipun anggaran besar tersebut sudah dikeluarkan, banjir masih terjadi secara berkala dengan dampak yang semakin besar.
Kritik Pemkot Soal Fraksi Gerindra DPRD Medan
Anggota Fraksi Gerindra DPRD Medan, Muhammad Asril, mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pemkot Medan terkait penanganan banjir.
Bahkan, menurut Asril, bencana banjir yang terjadi baru-baru ini justru membuktikan bahwa penanggulangan bencana di Medan belum optimal, meskipun sudah ada alokasi anggaran yang cukup besar.
“Ini sebuah kegagalan besar. Anggaran 42 miliar itu seharusnya bisa mengatasi masalah banjir yang selama ini menjadi masalah kronis di Kota Medan.
Tapi kenyataannya, saat hujan deras mengguyur, banjir tetap saja menggenangi berbagai kawasan di kota ini, termasuk rumah dinas Gubernur.
Kami sudah sering mendesak Pemkot untuk memperbaiki sistem drainase dan normalisasi sungai, tapi nyatanya justru semakin banyak titik-titik yang tergenang air. Ini adalah bukti nyata bahwa pengelolaan anggaran tersebut tidak tepat sasaran,” tegas Asril.
Kritik Pemkot Soal Penurunan Kualitas Infrastruktur dan Pemeliharaan

Baca Juga : Harga Bawang Merah di Pasar Kebun Lada Melonjak, Pedagang: 2 Kali Lipat
Ini menunjukkan bahwa Pemkot Medan tidak serius dalam memastikan kelangsungan fungsi infrastruktur yang ada.
Tetapi kenyataannya banyak yang tersumbat sampah dan tidak terawat
Kami mendesak Pemkot untuk segera melakukan evaluasi dan perbaikan sistem drainase yang ada. Ini bukan hanya soal anggaran, tapi soal pengelolaan yang tidak maksimal,” tambah Asril.
Kinerja Pemkot dan Komitmen Penanganan Banjir
Bobby juga menegaskan bahwa pihaknya tetap berkomitmen untuk memperbaiki sistem drainase dan meningkatkan kapasitas saluran air untuk mengatasi permasalahan banjir di masa depan.
Faktor Penyebab Banjir yang Belum Teratasi
Beberapa faktor penyebab banjir yang sering kali muncul di Medan, antara lain, adalah buruknya pengelolaan saluran drainase, kerusakan ekosistem sungai, serta tingginya volume sampah yang menyumbat saluran air. Selain itu, konversi lahan yang tidak terkendali dan pembangunan yang tidak memperhatikan daya tampung air hujan juga menjadi faktor penting yang memperburuk situasi banjir di kota ini.
Ketergantungan pada solusi jangka pendek, seperti pengerukan saluran atau pembuatan drainase baru, juga dipandang tidak cukup efektif tanpa adanya pendekatan sistematis yang mencakup pemeliharaan infrastruktur dan pengelolaan lingkungan secara menyeluruh.
“Masalah banjir di Medan bukan hanya soal saluran air yang tersumbat atau tidak cukup besar. Tapi lebih dari itu, ini adalah soal manajemen kota yang kurang memperhatikan daya dukung alam. Harus ada perencanaan yang lebih matang agar pembangunan dan pengelolaan lingkungan bisa berjalan seiring,” ungkap Ahmad Junaedi, seorang pakar perencanaan kota di Universitas Sumatera Utara.
Mereka menilai bahwa dalam penggunaan anggaran sebesar itu, harus ada transparansi dan akuntabilitas yang jelas agar tidak terjadi pemborosan atau penyalahgunaan dana.
Selain itu, Fraksi Gerindra juga mendesak Pemkot untuk segera merancang solusi jangka panjang yang lebih komprehensif untuk mengatasi masalah banjir, seperti penataan ruang kota yang lebih baik, pembangunan infrastruktur ramah lingkungan, dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan saluran drainase.
Harapan Masyarakat terhadap Pemkot Medan
Banjir yang terjadi baru-baru ini mengingatkan masyarakat Medan akan pentingnya tindakan yang lebih serius dari pemerintah kota dalam menangani bencana ini. Warga berharap agar Pemkot Medan tidak hanya mengandalkan proyek-proyek jangka pendek, tetapi juga merancang solusi yang lebih berkelanjutan.
Kami berharap Pemkot Medan lebih serius dan transparan dalam menangani masalah ini. Jangan sampai anggaran besar hanya menjadi pemborosan yang tidak membawa perubahan nyata bagi masyarakat,” kata seorang warga Medan yang turut menjadi korban banjir.
Masyarakat Medan mengharapkan transparansi dalam penggunaan anggaran dan, lebih penting lagi, langkah-langkah nyata yang dapat mengurangi dampak banjir dalam jangka panjang.
Bagi Medan, banjir bukan hanya masalah musiman, tetapi tantangan besar yang memerlukan solusi yang lebih matang dan berkelanjutan agar kota ini dapat berkembang dengan infrastruktur yang memadai dan lingkungan yang aman bagi warganya.

![IMG-20251214-WA0031[1] Komisi II DPR Minta](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251214-WA00311-148x111.jpg)
![HC1VgBN9Dv[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/HC1VgBN9Dv1-148x111.jpg)
![salah-ekitike_d44c857[1] 5 Pelajaran Laga](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/salah-ekitike_d44c8571-148x111.jpg)
![t_693cf62027f52[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/t_693cf62027f521-148x111.png)
![IMG-20251211-WA0075-2070838001[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251211-WA0075-20708380011-148x111.webp)
![pmj-bongkar-penyelundupan-pakaian-bekas-impor-wildandetikcom-1763712134911_169[1] Nanas Moris](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/pmj-bongkar-penyelundupan-pakaian-bekas-impor-wildandetikcom-1763712134911_1691-148x111.jpeg)