, ,

Ironi Ciamis Kandidat Kota Terbersih tapi Warga Buang Sampah ke Sungai

oleh -39 Dilihat
oleh
Ironi Ciamis Kandidat
Lautan buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FPSMI) yang melakukan long march menuju Kantor Gubernur Jawa Timur melintasi Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, Selasa (23/12/2025). Aksi demonstrasi besar-besaran selama tiga hari berturut-turut tersebut, sebagai bentuk perlawanan terhadap lambannya pemerintah dalam menjamin upah layak bagi pekerja. Mereka meminta penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Timur 2026 harus mengacu pada Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dengan nilai tegas sebesar Rp 3.575.938. Buruh menuntut penetapan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) serta Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) tahun 2026 di 32 kabupaten/kota di Jawa Timur, yang nilainya tidak boleh lebih rendah dari KHL provinsi. Mereka berharap penetapan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) harus benar-benar berdasarkan rekomendasi bupati dan wali kota, bukan hasil kompromi politik yang mengorbankan buruh. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Ironi Ciamis Kandidat Kota Terbersih Tapi Warga Masih Suka Buang Sampah ke Sungai

Kota Sei Rampah – Ironi Ciamis Kandidat terletak di Provinsi Jawa Barat, baru-baru ini mendapat predikat sebagai salah satu kandidat kota terbersih di Indonesia. Predikat ini tentu merupakan capaian yang patut diapresiasi, mengingat pentingnya kebersihan untuk kualitas hidup masyarakat dan daya tarik kota bagi wisatawan. Namun, di balik pengakuan tersebut, ada ironi yang menyelimuti: masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai.

Padahal, kota ini memiliki berbagai program dan inisiatif untuk menjaga kebersihan, serta berbagai fasilitas pengelolaan sampah yang telah disediakan oleh pemerintah. Namun, kebiasaan buruk membuang sampah di sungai seolah menjadi masalah yang sulit dihilangkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kesadaran masyarakat dan keselarasan antara predikat terbersih dengan perilaku warga yang belum sepenuhnya mendukung upaya tersebut.

Ironi Ciamis Kandidat Kebersihan yang Terancam: Sampah di Sungai

Sungai merupakan salah satu jalur penting bagi kehidupan masyarakat Ciamis, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Namun, beberapa sungai di kota ini, seperti Sungai Ciliwung dan Sungai Cimandiri, kini tercemar akibat kebiasaan buruk sebagian warga yang membuang sampah secara sembarangan. Sampah plastik, sisa makanan, hingga barang-barang rumah tangga sering terlihat mengapung di permukaan sungai, mencemari ekosistem air yang sebelumnya relatif bersih.

Fenomena ini tentu bertolak belakang dengan upaya pemerintah kota yang telah berinvestasi dalam program kebersihan, seperti penempatan tempat sampah di berbagai titik strategis, edukasi tentang pengelolaan sampah, dan pengelolaan sampah terpisah yang sudah dilakukan di beberapa area. Meskipun begitu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebiasaan membuang sampah ke sungai masih berlangsung tanpa kendali.DPRKPLH Ciamis Cepat Tanggap Bersihkan Sampah Menggunung di Panjalu

Baca Juga: Anggota DPR Usulkan 5 Kebijakan Ekologis Pascabencana Sumatera

Pengelolaan Sampah yang Belum Optimal

Program kebersihan yang dijalankan oleh Pemkot Ciamis memang cukup ambisius, namun hasilnya sering kali tidak sebanding dengan ekspektasi. Pembuatan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di berbagai sudut kota, serta layanan pengangkutan sampah yang telah dijalankan, belum sepenuhnya efektif mengubah perilaku masyarakat. Beberapa tempat yang telah dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan sampah pun masih sering terlihat kotor, karena tidak semua warga disiplin dalam membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

Kondisi ini semakin diperburuk dengan kurangnya kesadaran masyarakat akan dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Sampah yang dibuang ke sungai dapat menyebabkan penyumbatan aliran air, memperburuk kualitas air, dan merusak habitat flora dan fauna di sekitar sungai. Dampak jangka panjangnya tentu akan terasa bagi kehidupan masyarakat, seperti peningkatan risiko banjir, penyebaran penyakit, dan kerusakan ekosistem yang tak terhitung.

Kebiasaan Buruk yang Sulit Dihilangkan

Meski pemerintah telah berupaya keras melalui berbagai program sosial dan edukasi untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan, masih banyak warga yang merasa membuang sampah ke sungai adalah hal yang biasa. Beberapa warga bahkan beralasan bahwa mereka tidak tahu harus membuang sampah ke mana, atau merasa tempat sampah yang ada tidak cukup memadai.

“Kadang kalau di rumah banyak sampah, ya langsung saya buang saja ke sungai. Tempat sampah yang ada jauh dari rumah, jadi lebih mudah membuangnya ke sungai,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. “Kami sebenarnya tahu itu salah, tapi kadang merasa sudah tidak ada pilihan lain,” lanjutnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan hanya terletak pada kurangnya fasilitas, tetapi juga pada rendahnya tingkat kesadaran lingkungan dan pendidikan kebersihan yang harus terus ditingkatkan. Kebiasaan buruk ini membutuhkan perubahan pola pikir yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan pendekatan jangka panjang yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Peran Pemerintah dan Aktivis Lingkungan

Pemerintah Kota Ciamis tentunya sudah memiliki berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini, mulai dari kampanye kebersihan, pembuatan fasilitas pengelolaan sampah, hingga penerapan sanksi bagi pelanggar yang membuang sampah sembarangan. Namun, kesadaran yang rendah di kalangan sebagian warga masih menjadi tantangan besar.

Pemerintah telah menggandeng sejumlah aktivis lingkungan dan komunitas peduli sungai untuk menggelar kegiatan bersih-bersih sungai, edukasi kepada warga tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta penanaman pohon di sepanjang bantaran sungai untuk menanggulangi erosi. Namun, untuk mengatasi masalah ini secara menyeluruh, diperlukan kerja sama yang lebih intensif antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

Salah satu contoh positif adalah kegiatan “Ciamis Bersih” yang digelar setiap bulan, di mana warga diajak untuk bersama-sama membersihkan sungai dan lingkungan sekitar. Selain itu, sejumlah organisasi non-pemerintah (NGO) juga aktif mengadakan pelatihan tentang pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan untuk anak-anak sekolah hingga kalangan dewasa.

Ironi Ciamis Kandidat Pentingnya Edukasi Lingkungan Sejak Dini

Salah satu langkah paling efektif untuk mengatasi kebiasaan buruk membuang sampah ke sungai adalah dengan meningkatkan edukasi lingkungan sejak dini. Mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya menjaga kebersihan sejak mereka masih berada di bangku sekolah bisa menjadi salah satu kunci untuk membentuk pola pikir yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Beberapa sekolah di Ciamis sudah mulai mengimplementasikan kurikulum yang menekankan pada pentingnya kesadaran lingkungan dan pengelolaan sampah. Hal ini menjadi harapan untuk menciptakan generasi yang lebih peduli terhadap kebersihan dan mampu membawa perubahan positif dalam kebiasaan sehari-hari.

Mengubah Ciamis Menjadi Kota yang Benar-Benar Bersih

Pencapaian Ciamis sebagai kandidat kota terbersih memang patut diapresiasi. Namun, prestasi ini masih harus dilengkapi dengan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Agar Ciamis bisa benar-benar menjadi kota yang bersih, dibutuhkan upaya bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, baik pemerintah, warga, maupun sektor swasta.

Ke depan, pengawasan terhadap pengelolaan sampah harus diperketat, dan sanksi bagi pelanggar harus lebih tegas. Selain itu, fasilitas pengelolaan sampah yang lebih memadai serta pendekatan yang lebih menyentuh masyarakat harus menjadi prioritas utama. Dengan adanya sinergi antara berbagai pihak, diharapkan Ciamis tidak hanya sekadar menjadi kandidat kota terbersih, tetapi benar-benar dapat menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warganya.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.