Seirampah – Harga Tomat di Sumut di Sumatera Utara (Sumut) mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan hampir mencapai titik terendah. Pada awal bulan November 2025, harga tomat di sejumlah pasar tradisional dan modern di Sumut hanya dijual seharga Rp 4.000 per kilogram. Penurunan harga yang tajam ini menimbulkan berbagai dampak, baik bagi petani, pedagang, maupun konsumen.
Harga yang anjlok ini tentu sangat jauh dari harga normal yang biasanya berkisar antara Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per kilogram, tergantung pada musim dan ketersediaan pasokan. Penurunan harga tomat yang signifikan ini terjadi di berbagai daerah di Sumut, mulai dari Medan hingga kabupaten-kabupaten seperti Simalungun, Deli Serdang, dan Langkat, yang merupakan sentra produksi tomat di wilayah ini.
1. Penyebab Anjloknya Harga Tomat
Berdasarkan pantauan di lapangan, anjloknya harga tomat di Sumut disebabkan oleh melimpahnya pasokan tomat yang tidak sebanding dengan permintaan pasar. Beberapa petani mengatakan bahwa mereka panen raya dalam jumlah yang sangat besar pada musim ini, namun daya beli konsumen cenderung menurun, sementara permintaan di pasar tradisional juga tidak begitu tinggi. Hal ini menyebabkan harga tomat turun drastis.

Baca Juga : Samator Batam Genjot Produksi Hidrogen Ramah Lingkungan, Dukung Industri Energi
Panen kami kali ini sangat melimpah, tetapi harga yang kami terima malah semakin rendah. Biasanya harga tomat bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram, tetapi sekarang hanya Rp 4.000. Itu pun masih sulit dijual,” ujar Haris (52), seorang petani tomat di Simalungun yang telah menggeluti usaha tani ini selama lebih dari 20 tahun.
Selain itu, beberapa pedagang juga menyebutkan bahwa harga tomat merosot akibat adanya distribusi yang tidak merata di pasar. Ketersediaan tomat yang berlebihan menyebabkan pedagang terpaksa menjualnya dengan harga murah agar tetap laku. “Kami terpaksa menjual harga sangat murah karena stok tomat dari petani terus menumpuk. Kalau tidak, kami juga akan rugi,” kata Sri (38), pedagang sayur di Pasar Petisah Medan.
2. Dampak Buruk bagi Petani
Turunnya harga tomat yang tajam tentu sangat merugikan para petani, terutama mereka yang menggantungkan hidupnya dari tanaman ini. Bagi sebagian besar petani di Sumut, tomat adalah salah satu komoditas utama yang menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Namun, dengan harga yang anjlok, banyak petani yang merasa kesulitan untuk menutup biaya produksi, seperti biaya pupuk, biaya tenaga kerja, dan biaya transportasi.
“Saya sudah menghabiskan banyak uang untuk membeli pupuk dan sewa lahan, tapi hasil yang saya dapatkan sangat jauh dari harapan. Kalau harga seperti ini terus, kami bisa rugi besar. Kalau kami tidak jual, tomat akan membusuk di ladang,” keluh Siti Maesarah (45), petani tomat di Deli Serdang.
Bahkan, sebagian petani terpaksa membuang hasil panen mereka karena tidak laku dijual dengan harga yang sangat rendah. “Banyak yang membusuk di ladang. Kami terpaksa buang begitu saja karena tidak ada yang mau beli,” tambah Siti.
3. Penurunan Daya Beli Konsumen Juga Menjadi Faktor
Selain faktor pasokan yang melimpah, penurunan daya beli konsumen juga turut berkontribusi pada anjloknya harga tomat. Meskipun harga tomat menjadi sangat murah, konsumen merasa tidak membutuhkan banyak tomat karena adanya penurunan permintaan dari sektor restoran, rumah makan, dan industri pengolahan makanan yang mengurangi pembelian bahan baku.
“Kami memang membeli tomat dengan harga yang lebih murah, tetapi karena konsumen lebih memilih bahan makanan lain yang lebih murah, kami tidak bisa menjual banyak tomat. Selain itu, banyak usaha kecil yang tutup atau mengurangi produksi mereka,” ujar Rudianto (40), seorang pedagang tomat di Pasar Tradisional Medan.
Kondisi ekonomi yang kurang stabil dan kenaikan harga bahan pokok lainnya juga menjadi alasan konsumen lebih selektif dalam membeli sayuran dan bahan pangan lainnya. Meskipun harga tomat rendah, banyak keluarga yang tetap kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
4. Kebijakan Pemerintah dan Tindakan yang Diperlukan
Menyikapi masalah anjloknya harga tomat ini, sejumlah pihak meminta agar pemerintah segera melakukan intervensi agar harga komoditas ini bisa kembali stabil. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan memberikan subsidi transportasi untuk mengurangi biaya distribusi, serta mendorong program peningkatan konsumsi dalam negeri agar tomat bisa lebih banyak terjual.
“Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah bisa memfasilitasi petani dengan pasar yang lebih luas, seperti program pasar induk atau kerjasama dengan industri pengolahan makanan yang membutuhkan tomat dalam jumlah besar. Pemerintah juga bisa memberikan bantuan atau pelatihan kepada petani untuk beralih ke komoditas lain yang lebih menguntungkan,” kata Azhar Syah, Kepala Dinas Pertanian Sumut.
Pemerintah juga dapat memberikan bantuan modal kepada petani untuk mengurangi beban biaya produksi, serta mendorong kolaborasi dengan perusahaan pengolahan makanan yang dapat membeli tomat dalam jumlah besar untuk diolah menjadi produk-produk seperti saus tomat, pasta, atau jus tomat.
5. Tomat Jadi Komoditas yang Sering Mengalami Fluktuasi Harga
Harga tomat memang dikenal sering mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor alam, seperti cuaca yang buruk, serta faktor pasokan dan permintaan yang tidak seimbang. Pada musim tertentu, tomat bisa mengalami kekurangan pasokan, sehingga harga melonjak tinggi, sementara pada musim lainnya, harga bisa jatuh drastis seperti yang terjadi sekarang.
Menurut Ahmad Firdaus, seorang ahli agronomi dari Universitas Sumatera Utara (USU), fluktuasi harga ini sering terjadi karena banyak petani yang menanam tomat tanpa memperhitungkan kebutuhan pasar. “Pola tanam yang tidak terkoordinasi dengan baik membuat pasokan menjadi melimpah pada waktu yang tidak tepat. Jika produksi tomat bisa lebih terencana dengan baik, harga bisa lebih stabil,” jelas Firdaus.
6. Masa Depan Petani Tomat di Sumut
Meskipun harga tomat sedang anjlok, para petani tetap berharap agar situasi ini bisa segera pulih. Mereka berharap pemerintah bisa memberikan dukungan agar mereka bisa tetap bertahan di tengah ketidakpastian harga yang kerap turun-turun tajam. Sebagian petani pun mulai mencoba untuk beralih ke komoditas lain yang lebih menjanjikan, seperti cabai, sayuran daun, atau kentang, meskipun hal ini membutuhkan waktu dan penyesuaian yang tidak mudah.
“Kalau harga tomat tetap begini, kami mungkin harus beralih ke komoditas lain yang lebih stabil. Tetapi, itu juga membutuhkan investasi dan pengetahuan baru. Kami berharap pemerintah bisa memberikan pelatihan atau bantuan untuk mengalihkan usaha kami ke sektor lain,” kata Haris, petani tomat di Simalungun.
7. Peluang untuk Konsumen
Bagi konsumen, penurunan harga tomat yang sangat murah ini menjadi sebuah peluang untuk membeli tomat dengan harga yang sangat terjangkau. Banyak rumah tangga yang memanfaatkan harga tomat yang rendah ini untuk memenuhi kebutuhan dapur mereka. “Saya bisa membeli lebih banyak tomat untuk membuat sambal atau memasak sayur tomat, karena harga sekarang sangat murah. Ini kesempatan yang baik,” ujar Nisa (28), seorang ibu rumah tangga di Medan.
Namun, meskipun harga tomat murah, tetap saja ada kekhawatiran jika harga ini tidak stabil dalam jangka panjang, yang bisa menyebabkan ketidakpastian ekonomi bagi para petani.
Kesimpulan: Diperlukan Kerja Sama Antara Pemerintah dan Petani
Anjloknya harga tomat di Sumut ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, serta kelemahan dalam perencanaan produksi. Untuk mengatasi masalah ini, kerja sama antara petani, pemerintah, dan industri sangat diperlukan untuk memastikan stabilitas harga dan kesejahteraan petani.

![IMG-20251214-WA0031[1] Komisi II DPR Minta](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251214-WA00311-148x111.jpg)
![HC1VgBN9Dv[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/HC1VgBN9Dv1-148x111.jpg)
![salah-ekitike_d44c857[1] 5 Pelajaran Laga](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/salah-ekitike_d44c8571-148x111.jpg)
![t_693cf62027f52[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/t_693cf62027f521-148x111.png)
![IMG-20251211-WA0075-2070838001[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251211-WA0075-20708380011-148x111.webp)
![kapolri-jenderal-listyo-sigit-prabowo-saat-konferensi-pers-di-kemenkopolhukam-2_169[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/11/kapolri-jenderal-listyo-sigit-prabowo-saat-konferensi-pers-di-kemenkopolhukam-2_1691-148x111.jpeg)
