Seirampah – Harga Bawang Merah di Pasar Kebun Lada, Medan, mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Para pedagang mengungkapkan bahwa harga bawang merah kini melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan harga normal, yang berdampak langsung pada daya beli konsumen.
Lonjakan harga ini dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari cuaca buruk yang memengaruhi produksi, hingga kendala distribusi yang terjadi di tingkat petani dan pengepul.
Harga Bawang Merah Lonjakan Harga yang Tajam
Harga bawang merah di Pasar Kebun Lada, yang sebelumnya berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram, kini merangkak naik menjadi sekitar Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per kilogram. Lonjakan harga ini membuat banyak konsumen mengeluhkan mahalnya bahan pokok tersebut, terutama di kalangan ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada bawang merah sebagai bahan masakan sehari-hari.
Seorang pedagang bawang merah di Pasar Kebun Lada, Siti Aminah, mengatakan bahwa harga bawang merah saat ini sangat tinggi, jauh melampaui harga normal. “Dulu harga bawang merah bisa kami jual sekitar Rp 30.000 per kilogram.
Sekarang, kami harus jual Rp 60.000 per kilogram. Keadaannya memang sudah sangat sulit. Bahkan, kadang susah juga untuk mendapatkan pasokan bawang merah dari distributor,” ujar Siti, yang sudah lebih dari 15 tahun berjualan di pasar tersebut.
Penyebab Lonjakan Harga

Baca Juga : Silaturahmi PD Al Washliyah Sergai ke PA Sei Rampah, Perkuat Sinergi dan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini
Menurut para pedagang dan ahli pertanian, lonjakan harga bawang merah ini disebabkan oleh beberapa faktor utama yang mempengaruhi produksi dan distribusi.
Salah satu faktor terbesar adalah cuaca ekstrem yang melanda sejumlah daerah penghasil bawang merah di Indonesia, seperti Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Hujan lebat yang turun secara terus-menerus menyebabkan hasil panen gagal dan kualitas bawang merah yang dipanen menjadi menurun.
1. Cuaca Buruk dan Gagal Panen
Cuaca buruk, seperti hujan yang tidak menentu dan banjir, telah merusak lahan pertanian bawang merah. Tanaman bawang merah sangat sensitif terhadap curah hujan yang tinggi, dan kondisi ini menghambat proses panen. Sejumlah petani di wilayah penghasil bawang merah utama melaporkan bahwa mereka terpaksa gagal panen karena tanah yang tergenang air.
“Tanaman bawang merah kami terkena banjir. Jadi, banyak yang tidak bisa dipanen. Ini tentu saja memengaruhi pasokan di pasar,” kata seorang petani bawang merah di Nusa Tenggara Barat, Sumarno.
2. Gangguan Distribusi dan Kenaikan Biaya Logistik
Selain masalah produksi, gangguan dalam distribusi juga menjadi faktor penyebab kenaikan harga. Akses menuju beberapa daerah penghasil bawang merah mengalami kendala, terutama akibat infrastruktur jalan yang rusak dan ketidakstabilan harga bahan bakar yang memengaruhi ongkos transportasi. Biaya pengiriman yang semakin tinggi membuat harga bawang merah di pasar melonjak.
“Pengiriman bawang merah dari petani ke pasar jadi lebih mahal karena biaya transportasi yang terus naik. Ditambah dengan kondisi jalan yang rusak, membuat kami sulit mendapatkan stok yang cukup,” ungkap Farhan, seorang distributor bawang merah di Medan.
3. Permintaan yang Terus Meningkat
Selain faktor pasokan yang menurun, tingginya permintaan bawang merah juga turut berperan dalam lonjakan harga. Menjelang akhir tahun, permintaan untuk bahan pokok ini biasanya meningkat, terutama menjelang musim libur panjang dan perayaan akhir tahun. Hal ini mendorong pedagang dan distributor untuk menaikkan harga, mengingat pasokan yang terbatas.
Dampak Terhadap Konsumen dan Pelaku Usaha Kecil
Lonjakan harga bawang merah ini memberikan dampak yang cukup besar bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki penghasilan terbatas.
Sejumlah konsumen di Pasar Kebun Lada mengaku kesulitan untuk membeli bawang merah dalam jumlah banyak seperti biasanya.
“Sebelumnya, saya bisa membeli bawang merah seberat 2 kilogram untuk kebutuhan seminggu, tapi sekarang saya cuma bisa beli setengah kilogram. Harga segitu sudah sangat mahal buat saya,” ujar seorang ibu rumah tangga, Lestari, yang berbelanja di pasar.
Di sisi lain, pelaku usaha kecil seperti warung makan dan restoran juga turut merasakan dampaknya. Banyak yang terpaksa menaikkan harga menu masakan mereka karena biaya bahan baku yang semakin tinggi. Salah satu pemilik warung makan, Dedi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bawang merah mempengaruhi pengeluaran operasional warungnya. “Kami harus menyesuaikan harga jual makanan karena bahan bakunya semakin mahal. Bawang merah itu bahan yang wajib ada dalam setiap masakan, jadi jika harganya melambung tinggi, kami tidak bisa menghindar dari kenaikan harga,” jelas Dedi.
Upaya Pemerintah Mengatasi Masalah Ini
Pemerintah melalui Dinas Perdagangan dan Badan Ketahanan Pangan Kota Medan telah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi lonjakan harga bawang merah. Salah satunya dengan mengadakan operasi pasar untuk menyediakan bawang merah dengan harga yang lebih terjangkau bagi konsumen. Pemerintah juga mendorong distribusi bawang merah dari daerah lain yang tidak terdampak oleh bencana cuaca, sehingga pasokan tetap tersedia.
Namun, solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah ini masih perlu diperhatikan. Pemerintah diharapkan dapat bekerja sama dengan petani dan distributor untuk memperbaiki infrastruktur pertanian dan distribusi agar pasokan tetap lancar dan harga dapat lebih stabil.
Harapan ke Depan
Kenaikan harga bawang merah di Pasar Kebun Lada ini menjadi pengingat bagi semua pihak, baik pemerintah, petani, maupun konsumen, akan pentingnya ketahanan pangan dan pengelolaan distribusi yang efisien. Masyarakat berharap agar masalah harga bahan pokok seperti bawang merah dapat segera teratasi, dan pasokan kembali normal.
“Saya berharap harga bawang merah bisa turun lagi, karena ini benar-benar memberatkan kami yang memiliki penghasilan terbatas,” ujar Lestari, sambil berharap situasi ini segera membaik.

![IMG-20251214-WA0031[1] Komisi II DPR Minta](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251214-WA00311-148x111.jpg)
![HC1VgBN9Dv[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/HC1VgBN9Dv1-148x111.jpg)
![salah-ekitike_d44c857[1] 5 Pelajaran Laga](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/salah-ekitike_d44c8571-148x111.jpg)
![t_693cf62027f52[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/t_693cf62027f521-148x111.png)
![IMG-20251211-WA0075-2070838001[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251211-WA0075-20708380011-148x111.webp)
![3c90aeffab1654bbf41bd5b8bc728e93[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/3c90aeffab1654bbf41bd5b8bc728e931-148x111.jpeg)
![8331c401-1d95-4bbd-b4ca-6d7906638a53-350x220[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/12/8331c401-1d95-4bbd-b4ca-6d7906638a53-350x2201-1-148x111.jpg)