Jeritan Kotan Sei Rampah – Gamal Abdel Nasser Arsitek tidak hanya bergema di Mesir, tapi juga di seluruh dunia Arab dan Afrika. Sebagai presiden kedua Mesir yang memimpin dari tahun 1956 hingga wafatnya pada 1970, Nasser dikenang sebagai tokoh kuat yang berani menghadapi kekuatan kolonial, memperjuangkan kemerdekaan, serta membentuk wajah baru Mesir sebagai negara berdaulat dan berpengaruh.
Dengan gaya kepemimpinan karismatik dan pandangan politik anti-imperialis, Nasser menjadi ikon nasionalisme Arab, sekaligus salah satu pemimpin dunia paling berani di era Perang Dingin.
Awal Kehidupan: Dari Keluarga Sederhana ke Dunia Militer
Gamal Abdel Nasser lahir pada 15 Januari 1918 di Alexandria, Mesir, dari keluarga kelas menengah. Ayahnya bekerja sebagai pegawai pos. Sejak muda, Nasser sudah menunjukkan ketertarikan pada politik dan nasionalisme. Ia tumbuh dalam situasi Mesir yang masih di bawah bayang-bayang pengaruh Inggris.
Setelah menempuh pendidikan di Akademi Militer Mesir, Nasser menjadi perwira muda yang penuh idealisme. Di ketentaraan, ia bertemu dengan tokoh-tokoh lain yang juga kecewa terhadap kepemimpinan monarki Mesir saat itu.
Revolusi 1952: Awal Perubahan Besar

Baca Juga : MrBeast YouTuber Terkaya Dunia Tapi Takut Jatuh Miskin
Pada 23 Juli 1952, sekelompok perwira muda yang tergabung dalam organisasi “Gerakan Perwira Bebas”, termasuk Nasser, melancarkan kudeta terhadap Raja Farouk I. Kudeta ini tidak berdarah dan mendapat dukungan luas dari rakyat.
Tak lama setelah itu, monarki Mesir resmi dibubarkan, dan negara ini berubah menjadi republik. Presiden pertama Mesir, Jenderal Muhammad Naguib, akhirnya digantikan oleh Nasser pada tahun 1956.
Kepemimpinan Nasser: Nasionalisme, Sosialisme, dan Perlawanan terhadap Barat
Sebagai presiden, Nasser membawa visi besar untuk Mesir dan dunia Arab. Tiga pilar utama dalam pemerintahannya adalah:
1. Reformasi Sosial dan Ekonomi
-
Redistribusi tanah kepada petani
-
Nasionalisasi bank, industri, dan layanan publik
-
Pendidikan dan kesehatan digratiskan bagi rakyat
-
Pembangunan infrastruktur besar-besaran, termasuk Bendungan Aswan
2. Sosialisme Arab
-
Campuran antara sosialisme dan nasionalisme
-
Anti-kolonialisme dan kemandirian ekonomi
-
Tidak berpihak pada AS atau Uni Soviet secara mutlak, meski sering menerima bantuan dari blok Timur
3. Pan-Arabisme
-
Gagasan menyatukan dunia Arab dalam satu identitas
-
Nasser menjadi simbol persatuan Arab, dan berusaha menyatukan negara-negara seperti Suriah, Irak, dan Yaman
Krisis Terbesar: Nasionalisasi Terusan Suez
Pada tahun 1956, Nasser membuat langkah berani dengan menasionalisasi Terusan Suez, yang saat itu masih dikendalikan oleh perusahaan Inggris-Perancis.
Langkah ini membuat marah tiga kekuatan besar — Inggris, Perancis, dan Israel, yang kemudian melancarkan serangan militer ke Mesir. Namun, di tengah tekanan internasional dan dukungan dari negara-negara Arab serta AS dan Uni Soviet, pasukan asing akhirnya mundur.
Kemenangan diplomatik ini menjadikan Nasser sebagai pahlawan dunia ketiga dan memperkuat posisinya di dunia internasional.
🇪🇬 Proyek Besar: Bendungan Aswan dan Kemandirian Energi
Salah satu warisan terbesar Nasser adalah pembangunan Bendungan Aswan (High Dam) — proyek besar yang mengubah wajah pertanian dan industri di Mesir.
-
Mengatur banjir Sungai Nil
-
Menyediakan air untuk irigasi sepanjang tahun
-
Menghasilkan listrik dan membuka jalan industrialisasi
Proyek ini mendapat dukungan teknis dan dana dari Uni Soviet, karena AS menarik dukungan setelah nasionalisasi Terusan Suez.
Hubungan Internasional: Netral Tapi Berani
Nasser adalah pendiri gerakan Non-Blok, bersama Presiden Sukarno (Indonesia), Nehru (India), Tito (Yugoslavia), dan lainnya. Ia menolak tunduk pada AS atau Uni Soviet, dan fokus pada kemandirian negara-negara dunia ketiga.
Namun, ia juga menjadi musuh utama Israel, terutama setelah kekalahan Mesir dalam Perang Enam Hari (1967), di mana Israel berhasil merebut Semenanjung Sinai dari Mesir. Ini menjadi pukulan telak bagi reputasi Nasser, meskipun rakyat Mesir tetap mendukungnya.
Kematian dan Warisan
Gamal Abdel Nasser meninggal mendadak karena serangan jantung pada 28 September 1970, dalam usia 52 tahun. Kematian Nasser mengguncang dunia Arab. Lebih dari 5 juta orang hadir di pemakamannya, dan banyak yang menangis histeris di jalan-jalan Kairo.
Hingga hari ini, warisannya tetap hidup:
✅ Ia dikenang sebagai pemimpin rakyat
✅ Ia membawa harga diri bangsa Mesir
✅ Ia menjadi lambang perlawanan terhadap imperialisme
✅ Meski kontroversial, ia tetap dianggap sebagai salah satu pemimpin Arab terbesar sepanjang masa
Kesimpulan: Nasser, Antara Harapan dan Realitas
Gamal Abdel Nasser bukan sosok tanpa cela. Di balik karisma dan visinya, pemerintahannya juga diwarnai oleh:
-
Penindasan terhadap lawan politik
-
Pembatasan kebebasan pers
-
Kekalahan militer dalam Perang Enam Hari
Namun, semangatnya untuk membebaskan rakyat dari penjajahan dan ketidakadilan tak terbantahkan. Ia membangun identitas Mesir sebagai negara yang bebas, berdaulat, dan percaya diri.






![17346734291000019015[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/09/173467342910000190151-148x111.jpg)
![Ketua_Komisi_IV_DPR_RI__Siti_Hediati__Foto__Arief_vel20241121124509-768x512[1]](https://litin.net/wp-content/uploads/2025/09/Ketua_Komisi_IV_DPR_RI__Siti_Hediati__Foto__Arief_vel20241121124509-768x5121-1-148x111.jpeg)