Selasa, 25 Agustus 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Sport Update LitiSport Update Liti
Sport Update Liti - Your source for the latest articles and insights
Beranda Demam Padel di Indonesia: Kenapa Semua Orang Ikut ...

Demam Padel di Indonesia: Kenapa Semua Orang Ikut Main?

Padel tiba-tiba jadi olahraga favorit banyak orang Indonesia. Ini alasannya, plus biaya dan risiko cedera yang jarang dibahas.

Demam Padel di Indonesia: Kenapa Semua Orang Ikut Main?

Tiga tahun lalu, kalau ada yang ngajak main padel, kemungkinan besar aku bakal balas dengan pertanyaan bego: itu yang pakai dayung di atas air, kan? Sekarang? Grup WhatsApp alumni SMA-ku isinya tiap Kamis malam cuma rebutan slot lapangan jam 8. Ada yang sampai pasang alarm buat booking.

Perubahannya secepat itu. Dan jujur, aku sempat skeptis. Kupikir ini cuma tren sesaat, semacam sepeda lipat waktu pandemi yang sekarang teronggok di gudang. Tapi setelah ikut main dan lihat sendiri antrean lapangannya, aku mulai paham kenapa olahraga ini nempel.

Padel Itu Sebenarnya Olahraga Apa, Sih?

Gampangnya: bayangkan tenis, tapi lapangannya lebih kecil, dikelilingi dinding kaca, dan raketnya padat tanpa senar. Ukuran lapangannya sekitar 20 x 10 meter, jadi cuma sepertiga luas lapangan tenis. Selalu dimainkan ganda, dua lawan dua. Sistem skornya pinjam dari tenis, 15-30-40, jadi kalau kamu pernah nonton Grand Slam, kamu sudah setengah jalan paham.

Bedanya yang paling seru ada di dinding. Bola yang memantul ke kaca belakang masih boleh dimainkan. Jadi pukulan yang di tenis sudah dianggap poin mati, di padel masih bisa diselamatkan. Rally-nya jadi panjang, dramatis, dan sering berakhir dengan seseorang teriak nggak jelas karena bolanya balik dari arah yang nggak diduga.

Satu lagi: servisnya wajib dari bawah, di bawah pinggang, setelah bola dipantulkan ke tanah. Nggak ada tuh serve keras 200 km/jam yang bikin pemula minder duluan. Ini detail kecil, tapi menurutku justru inilah kunci kenapa padel bisa meledak.

Kenapa Padel Cepat Banget Meledak di Sini

Olahraga ini lahir di Meksiko akhir 60-an, lalu besar di Spanyol dan Argentina sampai jadi olahraga kedua paling populer di sana. Indonesia telat puluhan tahun. Tapi begitu masuk, penyebarannya kayak api di rumput kering. Lapangan padel bermunculan di Jakarta, Bali, Surabaya, Bandung, sampai kota-kota yang dulu boro-boro punya klub tenis aktif.

Kurva belajarnya ramah banget buat pemula

Ini alasan nomor satu, dan aku ngerasain sendiri. Di sesi pertama main tenis dulu, aku habiskan 45 menit cuma buat mungut bola yang nyangkut di net atau melayang ke lapangan sebelah. Rasanya kayak dihukum. Di padel, sesi pertama aku sudah bisa rally lima sampai enam pukulan bareng lawan.

Raketnya pendek dan padat, jadi kontrolnya lebih gampang. Lapangannya sempit, jadi kamu nggak perlu lari maraton. Dan karena ada dinding, bola yang salah pukul pun sering balik lagi dan permainan tetap jalan. Sensasi bisa itu datang cepat, dan itu yang bikin orang mau balik lagi minggu depan.

Formatnya sosial, bukan soliter

Karena selalu ganda, padel otomatis butuh empat orang. Nggak bisa main sendirian, nggak bisa berdua. Buat sebagian orang ini ribet, tapi justru di situ daya tariknya. Kamu jadi punya alasan konkret buat ngumpul rutin sama teman-teman yang biasanya cuma saling nge-like Instagram.

Menurutku padel bukan cuma laku karena olahraganya seru, tapi karena dia menjawab dua kebutuhan sekaligus: gerak badan dan ketemu orang. Dua hal yang makin susah dicari setelah umur 30.

Ditambah lagi, lapangan berdinding kaca itu memang enak difoto. Aku nggak akan pura-pura bilang faktor Instagram nggak berperan. Berperan besar, kok.

Tapi Jangan Cuma Dengar yang Manis-Manisnya

Ada dua hal yang jarang dibahas di konten-konten padel yang lewat di beranda kamu.

Pertama, biayanya nggak murah. Sewa lapangan di kota besar berkisar ratusan ribu per jam, dan itu belum dibagi empat kalau kamu patungan. Kedengarannya oke, tapi kalikan empat kali sebulan, lalu tambah bola yang harus diganti berkala, dan raket sendiri kalau kamu mulai serius. Raket entry level saja sudah gigit dompet. Padel saat ini masih olahraga kelas menengah kota, dan itu realistis untuk diakui.

Kedua, cederanya nyata. Karena orang merasa padel gampang, banyak yang skip pemanasan dan langsung main dua jam. Hasilnya keluhan yang sama berulang: nyeri siku, bahu bermasalah, dan yang paling sering, betis atau pergelangan kaki kena karena gerakan berhenti mendadak di ruang sempit. Teman kantorku sampai pincang seminggu gara-gara main tiga hari beruntun tanpa jeda di minggu pertamanya. Semangat boleh, tapi badan kamu belum tentu setuju.

Kalau Mau Coba Pertama Kali, Ini Saranku

  • Sewa raket dulu, jangan beli. Hampir semua venue nyediain rental. Main tiga sampai empat kali dulu, baru tentukan kamu benar-benar suka atau cuma penasaran.
  • Datang 15 menit lebih awal. Pemanasan sungguhan: putar bahu, ayun lengan, lari kecil, lompat ringan. Jangan cuma tarik-tarik kaki lima detik sambil ngobrol.
  • Cari partner yang selevel. Main lawan orang yang sudah setahun latihan itu bukan belajar, itu jadi penonton berbayar.
  • Pakai sepatu yang benar. Sepatu lari didesain buat gerak lurus ke depan. Padel penuh gerakan menyamping dan berhenti mendadak. Sepatu tenis atau court shoe jauh lebih aman buat pergelangan kakimu.
  • Ambil satu sesi coaching. Satu jam saja. Serius, ini investasi terbaik. Kebiasaan pukulan yang salah itu jauh lebih susah dibenerin daripada dipelajari benar sejak awal.

Jadi, Worth It Nggak?

Buat aku, iya. Bukan karena padel olahraga paling sehat sedunia atau bakal bikin kamu langsung sixpack, karena jujur saja nggak akan. Tapi karena ini olahraga pertama dalam beberapa tahun terakhir yang bikin aku nggak perlu memaksa diri buat berangkat.

Dan itu poin yang sering kelewat waktu kita ngomongin olahraga. Program latihan paling ilmiah sekalipun nggak ada gunanya kalau kamu benci menjalaninya dan berhenti di minggu ketiga. Olahraga terbaik itu yang kamu tungguin, bukan yang kamu takutin.

Kalau kamu termasuk orang yang berkali-kali gagal konsisten olahraga, mungkin masalahnya bukan di disiplin kamu. Mungkin kamu cuma belum ketemu jenis gerakan yang cocok. Padel kebetulan jadi jawaban buat banyak orang belakangan ini, termasuk aku. Coba dulu satu sesi. Kalau nggak cocok, ya nggak apa-apa, masih banyak pilihan lain di luar sana. Tapi siapa tahu Kamis malam kamu berikutnya sudah kepakai duluan.

Tags: padel padel indonesia olahraga tren olahraga raket gaya hidup sehat