, ,

99 Ternak di Blitar Terjangkit PMK Sejak Desember 2025 27 Sapi Masih Sakit

oleh -60 Dilihat
oleh
99 Ternak di Blitar

99 Ternak di Blitar Terjangkit PMK Sejak Desember 2025, 27 Sapi Masih Sakit

Kota Sei Rampah – 99 Ternak di Blitar Sebanyak 99 ekor ternak di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dilaporkan terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sejak bulan Desember 2025. Hingga saat ini, meski upaya pengobatan terus dilakukan, 27 ekor sapi dari jumlah tersebut masih dalam kondisi sakit dan memerlukan penanganan intensif. PMK sendiri merupakan penyakit yang sangat menular di kalangan hewan ternak, terutama pada sapi, kerbau, dan kambing, dan dapat menyebabkan kerugian besar bagi para peternak.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Blitar, melalui petugas veteriner, terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap ternak yang terjangkit PMK. Meski sudah ada beberapa ternak yang sembuh, para peternak masih dihadapkan pada tantangan besar untuk mengatasi penyebaran penyakit ini di tengah-tengah populasi ternak yang ada.

Penyebaran PMK di Blitar

Kasus PMK di Blitar pertama kali ditemukan pada Desember 2025, setelah sejumlah peternak melaporkan adanya gejala penyakit pada ternak mereka, seperti lesi pada mulut, pincang, dan demam tinggi. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, penyakit yang menyerang 99 ekor ternak tersebut dipastikan sebagai PMK, yang diketahui dapat menyerang secara cepat dan meluas dalam waktu singkat.

Kepala DPKP Kabupaten Blitar, Dr. Muhammad Rifai, mengungkapkan bahwa sejak ditemukan kasus pertama, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah pencegahan dan pengobatan kepada ternak yang terinfeksi. “Kami segera mengambil langkah-langkah untuk menanggulangi wabah ini, termasuk melakukan isolasi terhadap ternak yang terjangkit, penyemprotan desinfektan di area peternakan, serta pemberian obat-obatan yang diperlukan untuk meringankan gejala PMK,” ujarnya.

Meskipun demikian, penyebaran penyakit di kalangan ternak masih terus berlangsung, dengan beberapa sapi yang belum sepenuhnya sembuh. DPKP Kabupaten Blitar juga mencatat bahwa hingga saat ini, terdapat 27 ekor sapi yang masih dalam perawatan intensif, dan kondisi mereka terus dipantau oleh tim medis.PMK Masih Mengintai, Awal 2026 Sudah Tiga Kecamatan di Kabupaten Blitar  Terserang Wabah, Ini Datanya - Blitar Kawentar

Baca Juga: China Larang Warganya Berlibur ke Jepang Sebut Negara Tak Aman

Tantangan dalam Penanganan PMK

Penyakit PMK diketahui sangat menular dan dapat menyebar melalui kontak langsung antar hewan, pakan, air minum, serta peralatan yang digunakan peternak. Oleh karena itu, pencegahan yang dilakukan tidak hanya terbatas pada pengobatan, tetapi juga pada karantina ternak yang terjangkit dan pemantauan ketat terhadap ternak di sekitar wilayah tersebut.

“Salah satu tantangan terbesar kami adalah mencegah penyebaran lebih lanjut. Jika ada peternakan yang terinfeksi, kami segera melakukan karantina untuk memastikan ternak yang sehat tidak terpapar. Selain itu, kami juga memberi edukasi kepada peternak tentang pentingnya protokol kesehatan untuk mencegah PMK,” kata Dr. Rifai.

Selain itu, keterbatasan fasilitas di beberapa peternakan juga menjadi masalah dalam penanganan PMK. Beberapa peternakan yang terinfeksi berada di wilayah terpencil, di mana akses untuk mendapatkan obat-obatan dan perawatan medis yang tepat cukup sulit. Hal ini menambah tantangan bagi petugas kesehatan hewan untuk memastikan penyembuhan yang maksimal.

99 Ternak di Blitar Dampak Terhadap Peternak

Bagi peternak di Blitar, wabah PMK ini sangat mempengaruhi produktivitas ternak mereka. Selain menyebabkan kematian pada beberapa ekor sapi, PMK juga mengurangi produktivitas susu dan penurunan berat badan pada sapi yang terinfeksi. Kondisi ini tentu saja merugikan peternak, terutama yang menggantungkan hidup mereka pada sektor peternakan.

Salah satu peternak di Kecamatan Wlingi, Budi Santoso, mengungkapkan rasa kecewanya karena ternak-ternaknya terinfeksi PMK. “Saya sudah bertahun-tahun beternak sapi, dan sekarang harus menghadapi masalah ini. Beberapa sapi saya sudah menunjukkan tanda-tanda sembuh, tetapi masih ada beberapa yang belum pulih sepenuhnya. Ini jelas mengurangi penghasilan kami,” keluh Budi.

Selain itu, kerugian yang ditimbulkan akibat penurunan kualitas ternak ini juga berpotensi mengganggu ekspor sapi dan perdagangan daging sapi di pasar lokal. Kualitas ternak yang menurun membuat permintaan dari pasar juga berkurang. “Kami berharap pemerintah bisa memberikan bantuan kepada peternak yang terdampak agar mereka bisa tetap bertahan,” tambah Budi.

99 Ternak di Blitar Upaya Pemerintah untuk Menanggulangi PMK

Dalam rangka mengatasi wabah PMK, Pemerintah Kabupaten Blitar bersama dengan Kementerian Pertanian telah menyediakan bantuan vaksinasi untuk hewan ternak yang belum terjangkit, serta memberikan insentif kepada peternak yang terdampak. Vaksinasi ini diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap ternak yang sehat dan mencegah penyebaran lebih lanjut.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Blitar juga telah memperkuat sistem pemantauan untuk mendeteksi gejala PMK sejak dini di tingkat desa. Pelatihan dan edukasi kepada peternak juga terus dilakukan, agar mereka dapat mengenali gejala PMK dengan cepat dan segera melakukan langkah-langkah pencegahan.

DPKP Kabupaten Blitar juga memastikan bahwa pasokan obat-obatan dan peralatan medis untuk pengobatan PMK dapat tersedia dengan cukup, meski ada beberapa tantangan dalam distribusinya. “Kami sedang berusaha agar peternak bisa mendapatkan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan hewan yang kami sediakan, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau,” ungkap Dr. Rifai.

Harapan untuk Pemulihan Sektor Peternakan

Meski wabah PMK ini menjadi tantangan besar bagi sektor peternakan di Blitar, para peternak dan pemerintah berharap agar dengan langkah-langkah yang diambil, wabah ini dapat segera terkendali. Pemulihan sektor peternakan membutuhkan waktu dan upaya bersama antara pemerintah, peternak, serta masyarakat

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.